Cerita ditengah penantian


Masih banyak wajah-wajah yang menunggu disana. Kerap kali memandangi wajah-wajah mereka yang seharusnya sudah bisa mempunyai anak untuk menjadi penghibur hati, buah dari cinta kasih bersama seseorang yang disebutnya sebagai suami. Namun, yang aku lihat kenyataannya sungguh jauh. Justru wajahnya terlalu sendu dan penuh kecemasan bagaimana dengan usia mereka yang hampir memasuki kepala tiga itu. Bukan satu dua orang, namun fenomena itu justru banyak di alami muslimah disekitar kita.

Saat bertemu pada suatu kajian umum yang mengumpulkan akhwat sekota palembang, sudah cukup untuk mengenal mereka yang berasal dari domisili yang berbeda. Seringkali aku memperhatikan mereka, bertanya-tanya tentang mereka, minimal aku bertanya; mb fulanah angkatan berapa?  Hatiku berdesir saat tahu ia berumur 5 tahun lebih tua dariku, yang artinya umurnya sudah hampir berkepala tiga. Namun yang mengiris hati yaitu sampai umur setua itu ia masih dalam status penantian. Tidak sedikit juga ada yang berumur lebih dari 30 tahun.

Bercerita dengan seorang terdekatku saja, yang kukenal beberapa akhwat yang lebih tua dariku, ada yang berumur 3 sampai 7 tahun tua dariku. Artinya mereka ada yang sudah berkepala tiga. Mbak fulanah bercerita bahwa ia sudah tiga kali ikhtiar dalam proses ta’aruf namun masih belum mendapatkan yang terbaik. Ungkapan motivasi kuucapkan, insya allah mb akan menemukan orang yang lebih tepat lagi. J

Kekaguman dengan kesabaran mereka dalam penantian. Kagum dengan keistiqamahan mereka menjaga diri. Kagum dengan ketaatan mereka, sungguh akhlak yang agung buat wanita Shalihah seperti mereka. Berdecak kagum karena aku baru akan memulai apa yang akan mereka lalui. Mungkin umur ini masih jauh lebih muda dari mereka. Meski begitu, tetap saja nasihat selalu diberikan kepada kami yang lebih muda agar terus menyiapkan segala hal menghadapi itu semua.

Fenomena ini mungkin sudah dilirik oleh senior-senior diatas. Khawatir dengan status single akhwat yang terus membludak. Ada wacana tentang poligami, atau akhwat harus bersiap-siap menikah dengan yang lebih muda dari mereka. Permasalahan yang dikhawatirkan adalah bagaimana dengan akhwat yang futur ditengah jalan lalu memilih menikah dengan mereka yang berbeda idealismenya. Atau juga mereka yang terpaksa menikah dengan mereka yang awam.

Ada bisik-bisik tetangga tentang makhluk itu yang terlalu memilih dalam memilih pasangan. Kriteria yang seabrek. Sebuah fitrah illahi jikalau mereka menginginkan dengan yang lebih cantik, cerdas, dapat dikatakan ideal lah. Yang tidak habis fikir mereka yang mungkin sudah memasang target dengan fulanah dan fulanah . Memang akhwat barang yang bisa di pesan dahulu. Bahkan ada yang sudah berani terang-terangan bahwa ia akan menikah dengan akhwat B.. Oh no…Siapa sih murobbinya?!!!

Gambar

Bagaimana seorang akhwat saat menghadapi lamaran dari mereka yang awam (red: kurang sholeh). Ada juga akhwat yang menerima pinangan saat masih duduk dibangku kuliah, yang notabene kebanyakan mereka belum siap dan ingin fokus ke study nya.

Bukan menafikkan diri untuk tidak dewasa dalam menentukan keputusan menghadapi lamaran dari yang awam. Banyak pertimbangan dari mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia tarbiyah. Tentunya menginginkan mereka yang sama-sama tarbiyah. Menginginkan untuk memiliki tujuan yang sama dengan pasangan mereka kelak.

Pernah juga berdiskusi dengan akhwat yang sudah dewasa. Bertukar pikiran tentang hal diatas. Merasakan kebijakan beliau. Awalnya kondisi yang sama, menginginkan kelak mendapatkan mereka yang sama-sama tarbiyah. Namun jika kedepannya akan mendapatkan yang hanif (sholeh tapi tidak tarbiyah) bagaimana? Jawaban yang bijak dari beliau, Insya allah akan berusaha dikomunikasikan dengan keluarga dan murobbi. Selagi ia “Sholeh” kenapa tidak? Soal kedepannya yang membutuhkan bimbingan, tidak masalah kedepannya keduanya sama-sama belajar. Si akhwat yang mungkin lebih paham karena tarbiyahnya. Bisa jadi itu sebagai peluang dakwah bagi si akhwat. Spechless sekali jawabanmu mbak!

Ada juga akhwat yang tetap menginginkan mendapatkan mereka yang sama-sama tarbiyah. Alasannya butuh pembimbing ekstra. Alasan ini tidak salah, memang kedepannya yang akan memimpin rumah tangga ya makhluk satu itu. Insya Allah skenario Allah itu indah, dengan siapa saja kita kelak melangkah mengarungi bahteri sesi kehidupan rumah tangga selanjutnya, Yakinlah bahwa itulah yang dipersiapkan, dipilihkan Allah dari yang terbaik untuk kita.

 

 

Iklan

One thought on “Cerita ditengah penantian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s